Wednesday, January 15, 2020

Jadi Ulat!!!

JADI ULAT!!!

4 pekan mengerjakan telur yang kebanyakan kerjanya di injury time, cukup membuat khawatir bisakah saya berubah jadi ulat?

Alhamdulillah bisa berubah jadi ulat juga, mengerjakan tugas buncek kali ini bikin saya bolak-balik berpikir, menulis, coret, buat yang baru lalu dikerjakan.

Daaan ini membuat saya sadar harus lebih mawas diri, harus lebih bijak, harus lebih maksimal apalagi anak sudah dua, umur nyaris nambah, maut tidak diduga.

Kuy belajar lagi, terus dan terus belajar
Karena belajar itu bikin kita merdeka, bukan sebaiknya.

#Buncek1
#BelajarMerdeka
#MerdekaBelajar

Monday, January 13, 2020

Mind Mapping Project CDr. Tetta Ceria


Mind Mapping Telur Orange


Materi pekan ke Empat kelas Bunda Cekatan hadir dengan format yang agak berbeda. Kali ini materi dipaparkan  oleh Pak Dodik, materi yang diberikan juga sangat menarik karena membahas mengenai Mind Mapping pembelajar.

Metode Mind Mapping bagi saya cukup efektif untuk memberikan gambaran utuh mengenai sebuah materi. Materi ini pertama kali saya kenali ketika membaca buku Quantum Learning, metode ini menurut saya sangat cocok bagi peserta yang modalitas belajarnya adalah Visual. Sangat disarankan untuk membuat Mind Mapping ini dengan warna dan visualisasi yang baik sehingga mudah untuk diingat.

Kembali mengenai Mind Mapping keterampilan belajar, sesuai dengan arahan Ibu Septi bahwa Mind Mapping yang dibuat adalah mengenai Telur Orange yang telah dibuat sebelumnya, terkait keterampilan yang akan dikuasai 5 bulan kedepan.

Mind Mapping yang saya buat adalah seputar keterampilan yang akan saya kuasai paling tidak 5 bulan kedepan, Judul yang saya pilih adalah CDr. Tetta Ceria 2020. Saya memilih judul ini karena saya menyadari bahwa selama ini saya tidak enjoy menjalani kehidupan saya , saya terbebani dengan peran saya di ranah publik dan dengan adanya Project ini saya berharap tujuan saya bisa terpenuhi dan saya sukses menjadi Tetta yang lebih ceria :).






#Buncek1
#Pekanke4
#MindMapping
#BelajarMerdekaMerdekaBelajar

Monday, January 6, 2020

Telur Orange Cara Belajar!!!


Setelah melewati libur akhir tahun, kelas bunda cekatan memulai lagi aktivitas pembelajaran.
Kali ini kami diberikan materi dan diskusi mengenai bagaimana menemukan cara belajar.

Ibu Septi Peni Wulandani yang menyebut beliau sebagai fasilitator, semakin membuka mata saya mengenai bagaimana kelas bunda cekatan ini berjalan. Benang merah tentang bagaimana menjalani Universitas Kehidupan mulai terlihat.

Kali ini tugas 3 yang diberikan kepada kami adalah Menemukan bagaimana cara belajar.
Sangat menarik karena setiap mahasiswa ditantang untuk  mengetahui sesuatu yang dibutuhkan dari dirinya secara spesifik dan cermat karena semua yang dituliskan akan dilaksanakan selama 5 bulan kedepan.

Tugas kali ini adalah bagaimana caranya menemukan telur Oren....

Daaaan inilah terlur oren yang saya temukan, Check it Out




kelima ilmu diatas adalah telur oren yang saya tuliskan dengan penuh perenungan #alay
yah karena saya berharap saat ini adalah momentum yang tepat untuk memperbaiki kembali hidup saya agar tujuan saya bisa tercapai.

Menjadi muslimah kaffah, menjadi istri dan ibu yang baik adalah cita-cita yang tidak mudah di tengah hiruk pikuk dunia ini.....
#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional




Tuesday, December 24, 2019

Telur Merah Terampil



Temukan Terampilmu


Tugas Buncek yang kedua kali ini menantang peserta untuk mengenali dan menganalisis faktor-faktor pendukung dan penghalang dari aktivitas Suka dan Bisa.

Setelah mengetahui kuadran suka dan bisa, saya mengenali salah satu aktivitas yang sangat penting dan mendesak yang bisa menambah  indeks kebahagiaan kita sebagai seorang istri, perempuan dan ibu bisa naik terus.

MENULIS

Bagi saya adalah aktivitas yang saat ini sangat penting dan mendesak, karena saya sangat banyak pekerjaan rumah yang berkaitan dengan aktivitas ini. 
- Melanjutkan pendidikan
- Menulis Buku
- Menulis Portofolio Anak
 dan masih banyak aktivitas yang sangat berkaitan dengan kegiatan menulis ini.

Berkaitan dengan kegiatan ini, maka ada beberapa keterampilan penting yang sangat penting dan mendesak yang harus saya kuasai dengan segera agar target saya berkaitan dengan hal ini dapat terwujud. 








#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#materi2
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP

#institutibuprofesional

Tuesday, December 17, 2019

Telur-telur??

Welcome to the Club....

Alhamdulillah akhirnya setelah lama vakum  dalam dunia IIP, Akhirnya launching juga kelas benda cekatan.

Maju mundur cantik untuk ikut perkuliahan ini, namun karena emak juga butuh momentum maka emak pikir inilab saatnya kembali ke jalan yang benar, hehehehe

Materi pertama adalah menemukan Telur-telur yang menjadi cikal bakal kupu-kupu yang cantik. Gampang-gampang susah menemukan aktivitas dan menggolongkannya dalam 4 kuadran Telur-telur :).

Setelah bertapa dalam kegelapan malam (pas mati lampu) berikut ini adalah hasilnya.


Semoga Telur-telurnya bisa dijaga dengan baik, doakan yak

#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#BundaCekatan1
#InstitutIbuProfesional

Monday, April 8, 2019

Me Time Ala Aku



Sebagai seorang Ibu yang bekerja di Ranah Publik, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu , dan 4 minggu dalam sebulan sepertinya berlalu begitu cepat, seolah tidak memberikan waktu bahkan untuk berkedip pun, hehehe terdengar agak berlebihan yah mak. Namun demikianlah kondisi yang terjadi sangat sulit untuk melakukan kegiatan jika tidak benar-benar penting, apalagi tanggung jawab dan peran utama dan wajib sebagai Ibu membutuhkan usaha dan waktu dengan porsi yang seharusnya lebih besar.

Apalah daya setiap orang punya alasan sendiri kenapa harus bertahan dalam sebuah kondisi, pun dengan Ibu bekerja, jadi bagi yang suka nyinyir pada Ibu bekerja berempatilah karena diantara sekian Ibu bekerja itu mereka harus menanggung beban yang begitu besar. Ahahaha jadi curhat yeee.
Me Time seolah tidak ada dalam kamus Ibu-Ibu ini karena begitu terbatasnya waktu, padahal tentu saja hal ini bisa menjaga kewarasan sebagai Ibu dalam menjalani Ibadah seumur hidupnya. Tidak terkecuali saya, Me Time ini semacam doping biar bisa Stay Cool menghadapi apapun di depan mata. Bagi saya Me Time itu banyak momen karena kalau harus dilakukan dengan mengkhususkan waktu rasanya mustahil.

Me time bagi saya bisa dimana saja dan kapan saja, kadang diatas motor saat berkendara menembus lalu lintas yang macet, kadang saat lembur di kantor dan yang paling favorit adalah ketika anak-anak sudah tidur dan saya bisa sholat dan tilawah tanpa gangguan sedikit pun, aiahh alangkah nikmatnya. Saat-saat seperti itu memberikan waktu bagi saya untuk berdialog dengan diri sendiri, siapa saya, akan kemana, dan bagaimana caranya.

Saya yakin setiap Ibu punya Me Time yang berbeda-beda dengan kepuasan yang berbeda beda pula namun bagi saya Sejatinya Me Time bagi Ibu adalah waktu untuk menyambungkan kembali tali kepada sang pencipta karena tanpa itu semua siapa pun akan sulit menghadapi hari-hari apalagi untuk seorang Ibu.

Selamat menenukan Me Time yah Emak sejagad raya dan jangan lupa jaga kewarasan kapan, dimana dan apapun kondisinya J.


#OWOP
#RumbelMenulisIPS



Sunday, March 24, 2019

Cibeo dan Hikmah kehidupan

Perjalanan ini dimulai atas aksi nekat teman-teman Dosma ( Dosen Magang ITB 2013), waktu libur adalah waktu yang ditunggu-tunggu setelah sepekan disibukkan dengan kegiatan Dosma. Kenapa aksi nekat? Karena tidak satupun dari kami yang pernah pergi kesana, belum lagi kondisi keuangan yang pas-pasan :D.

Setelah searching sana sini, kamipun berangkat dengan menggunakan mobil rental. Tidak tanggung-tanggung saking nekatnya (baca:irit) kami berangkat 9 orang dengan menggunkan mobil Avanza menempuh perjalanan dari Bandung-Banten. Selepas maghrib kami memulai perjalanan dari kota Bandung, melintasi jalan tol menuju ke Jakarta, pukul 01.00 dinihari kami tiba di Depok beristirahat di rumah salah seorang teman sekedar mandi dan meluruskan badan.
                                                                                                                                               
Subuh hari kami melanjutkan perjalanan ke Provinsi Banten, setelah melalui perjalanan kurang lebih 10 jam akhirnya kami tiba di Banten dengan modal Tanya-tanya, maklum saat itu belum ada Google Maps yang bisa memandu, Alhamdulillah sampai juga kami di Ciboleger.


Desa Ciboleger, Pandeglang adalah desa terakhir yang menjadi batas dunia luar dan kampong Baduy, atau dengan kata lain Desa Ciboleger ini adalah pintu masuk ke Kampung Baduy. Di lokasi ini lebih mirip terminal kecil yang berisi kios-kios dengan mobil berjejer di sekeliling tugu. Di Desa ini pula terdapat pos kecil yang berisi tawaran paket Guide untuk pengujung yang ingin diantar ke Kampung Baduy dengan tarif pengantaran berbeda-beda sesuai dengan tujuan perjalanan.

Desa Kanekes merupakan desa yang dihuni oleh suku Baduy luar yang jaraknya relatif lebih dekat dibandingkan suku Baduy Dalam. Tujuan kami adalah menuju ke Desa Cibeo yang dihuni oleh suku Baduy dalam sehingga tarifnya pun lumayan bagi kantong perantau nekat macam kami, akhinya dengan sedikit argumen kamipun berhasil mendapatkan harga diskon tetapi dengan paket minimalis, dengan pemandu wisata tanpa porter.




 https://citaariani.files.wordpress.com/2013/05/peta-baduy.jpg


Perjalanan pun kami mulai dengan riang gembira, melewati desa Kanekes kami disuguhi dengan rumah khas suku Baduy yang begitu sederhana dan bersahaja, senyum ramah para penduduk begitu hangat menyapa kami. Penataan rumah yang berjejer di sepanjang jalan berbatu menambah keelokan kampung Baduy ini. Penduduk Desa Kanekes bermata pencaharian sebagai petani, mereka bertani di sekitar kaki gunung, sedangkan wanitanya lebih banyak dirumah dengan bertenun kain. Mereka hidup bertetangga seperti masyarakat pada umumnya hanya saja memang mereka masih memegang beberapa aturan adat, seperti warna pakaian mereka yang didominasi warna hitam yang konon katanya karena mereka sudah terkontaminasi oleh dunia luar dan penggunaan kain sarung.







Perjalanan pun kami lanjutkan, untuk mencapai kampung Baduy dalam yaitu kampung Cibeo kami harus berjalan lagi sekitar 14 KM dari Ciboleger. Sepanjang perjalanan ke Cibeo kami melewati jembatan yang menghubungkan antara satu desa dengan desa lainnya, konstruksi jembatan ini terbuat dari susunan bambu yang diikat dengan tali, cukuplah untuk menopang beban hidup.

Perjalanan cukup berat bagi kami, euphoria diawal perjalanan membuat kami tidak bijak menggunakan energi untuk berjalan jauh, Akhirnya di sepanjang perjalanan kami banyak singgah untuk beristirahat kamipun sering ditegur oleh pemandu jalan, khawatir kemalaman di Jalan. Tanjakan tinggi dan penurunan cukup menguras tenaga rasanya ingin menyerah saja, tidak jarang beberapa dari kami terpeleset karena kabut mulai turun menjelang sore hari mengakibatkan jalan tanah yang dilalui mulai licin.










Cukup lama berselang kamipun akhirnya sampai ke perbatasan antara wilayah Baduy Luar dan Baduy dalam, sebuah jembatan kayu yang lebih kecil dan sempit setelah jembatan ini beberapa peraturan untuk suku Baduy dalam berlaku pula untuk kami, yaitu tidak ada kamera. Suku baduy dalam adalah masayarakat baduy masih memegang teguh adat-istiadatnya secara utuh. Konsep yang dipegang adalah konsep pikukuh yaitu pada intinya konsep ini berisi tentang keapaadaan, sehingga suku baduy dalam tidak menerima adanya pengaruh modernisasi.







Pukul 18.00 akhirnya setelah 5 jam berjalan kaki kami sampai juga dikampung Cibeo salah satu kampung Baduy Dalam selain desa Cikawartana, kampung ini cukup kecil susunan rumah-rumahnya hampir mirip dengan yang ada di Kanekes, hanya saja di kampung ini ada beberapa aturan adat yang harus ditaati oleh semua orang termasuk orang luar seperti kami. Kami dipersilahkan untuk menginap disebuah rumah kayu yang berjarak 50-100 cm dari tanah, ukuran rumah sekitar 8x6 meter dengan atap setinggi 3 meter. Konsep alami benar-benar terlihat dari isi rumah mereka, tak ada barang-barang istimewa hanya alat rumah tangga sederhana. Malam itu kami disuguhi Indomie dan nasi, cukup mengherankan juga karena ditengah cara hidup mereka yang sederhana, mereka diperbolehkan untuk makan makanan modern. Kami menghabiskan malam dengan berbincang namun tidak lama karena kelelahan yang menyerang akhirnya kami berangkat untuk tidur didalam rumah yang beralaskan bilah-bilah bambu dengan berselimut dingin. Dipagi hari kami melihat pemandangan yang sangat menakjubkan pesona kampung Baduy dibalut kabut dan jejeraran batu besar di dataran yang cukup luas sangat memukau, tak jauh dari sana terdapat sungai besar tempat masyarakat melakukan aktivitas MCK. Kamipun pergi ke sungai untuk sekedar membasuh muka, oh iya di sini kami dilarang menggunakan pasta gigi ataupun sabun, alhasil kami tidak bisa apa-apa. Sayangnya kami harus segera pulang karena perjalanan pulang kami harus ditempuh kurang lebih 5 jem berjalan kaki untuk sampai ke Ciboleger untuk kembali ke Bandung.


Meninggalkan kampung Baduy dalam memberikan beberapa catatan penting, bahwa hidup selaras dengan alam, menjaga kelestariannya akan membuat hidup manusia lebih terjaga, menutup diri dari dunia luar adalah pilihan yang sulit bagi siapapun di zaman seperti sekarang ini, tapi mereka bisa membuktikannya artinya sekuat apapun pengaruh buruk di luar sana jika kita mau meminta pertolongan Allah SWT maka kita akan dimampukan untuk hidup dengan nilai-nilai yang baik sesuai tunutunan Al Qur’an, dan yang terakhir layaknya perjalanan ke Cibeo, hidup ini pun harus dijalani dengan sungguh-sungguh karena kita tidak pernah tahu apa yang akan menunggu kita di ujung sana, yang perlu kita lakukan hanyalah niat yang baik, lakukan yang baik dan Insya Allah akan indah pada saatnya.