Monday, April 8, 2019

Me Time Ala Aku



Sebagai seorang Ibu yang bekerja di Ranah Publik, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu , dan 4 minggu dalam sebulan sepertinya berlalu begitu cepat, seolah tidak memberikan waktu bahkan untuk berkedip pun, hehehe terdengar agak berlebihan yah mak. Namun demikianlah kondisi yang terjadi sangat sulit untuk melakukan kegiatan jika tidak benar-benar penting, apalagi tanggung jawab dan peran utama dan wajib sebagai Ibu membutuhkan usaha dan waktu dengan porsi yang seharusnya lebih besar.

Apalah daya setiap orang punya alasan sendiri kenapa harus bertahan dalam sebuah kondisi, pun dengan Ibu bekerja, jadi bagi yang suka nyinyir pada Ibu bekerja berempatilah karena diantara sekian Ibu bekerja itu mereka harus menanggung beban yang begitu besar. Ahahaha jadi curhat yeee.
Me Time seolah tidak ada dalam kamus Ibu-Ibu ini karena begitu terbatasnya waktu, padahal tentu saja hal ini bisa menjaga kewarasan sebagai Ibu dalam menjalani Ibadah seumur hidupnya. Tidak terkecuali saya, Me Time ini semacam doping biar bisa Stay Cool menghadapi apapun di depan mata. Bagi saya Me Time itu banyak momen karena kalau harus dilakukan dengan mengkhususkan waktu rasanya mustahil.

Me time bagi saya bisa dimana saja dan kapan saja, kadang diatas motor saat berkendara menembus lalu lintas yang macet, kadang saat lembur di kantor dan yang paling favorit adalah ketika anak-anak sudah tidur dan saya bisa sholat dan tilawah tanpa gangguan sedikit pun, aiahh alangkah nikmatnya. Saat-saat seperti itu memberikan waktu bagi saya untuk berdialog dengan diri sendiri, siapa saya, akan kemana, dan bagaimana caranya.

Saya yakin setiap Ibu punya Me Time yang berbeda-beda dengan kepuasan yang berbeda beda pula namun bagi saya Sejatinya Me Time bagi Ibu adalah waktu untuk menyambungkan kembali tali kepada sang pencipta karena tanpa itu semua siapa pun akan sulit menghadapi hari-hari apalagi untuk seorang Ibu.

Selamat menenukan Me Time yah Emak sejagad raya dan jangan lupa jaga kewarasan kapan, dimana dan apapun kondisinya J.


#OWOP
#RumbelMenulisIPS



Sunday, March 24, 2019

Cibeo dan Hikmah kehidupan

Perjalanan ini dimulai atas aksi nekat teman-teman Dosma ( Dosen Magang ITB 2013), waktu libur adalah waktu yang ditunggu-tunggu setelah sepekan disibukkan dengan kegiatan Dosma. Kenapa aksi nekat? Karena tidak satupun dari kami yang pernah pergi kesana, belum lagi kondisi keuangan yang pas-pasan :D.

Setelah searching sana sini, kamipun berangkat dengan menggunakan mobil rental. Tidak tanggung-tanggung saking nekatnya (baca:irit) kami berangkat 9 orang dengan menggunkan mobil Avanza menempuh perjalanan dari Bandung-Banten. Selepas maghrib kami memulai perjalanan dari kota Bandung, melintasi jalan tol menuju ke Jakarta, pukul 01.00 dinihari kami tiba di Depok beristirahat di rumah salah seorang teman sekedar mandi dan meluruskan badan.
                                                                                                                                               
Subuh hari kami melanjutkan perjalanan ke Provinsi Banten, setelah melalui perjalanan kurang lebih 10 jam akhirnya kami tiba di Banten dengan modal Tanya-tanya, maklum saat itu belum ada Google Maps yang bisa memandu, Alhamdulillah sampai juga kami di Ciboleger.


Desa Ciboleger, Pandeglang adalah desa terakhir yang menjadi batas dunia luar dan kampong Baduy, atau dengan kata lain Desa Ciboleger ini adalah pintu masuk ke Kampung Baduy. Di lokasi ini lebih mirip terminal kecil yang berisi kios-kios dengan mobil berjejer di sekeliling tugu. Di Desa ini pula terdapat pos kecil yang berisi tawaran paket Guide untuk pengujung yang ingin diantar ke Kampung Baduy dengan tarif pengantaran berbeda-beda sesuai dengan tujuan perjalanan.

Desa Kanekes merupakan desa yang dihuni oleh suku Baduy luar yang jaraknya relatif lebih dekat dibandingkan suku Baduy Dalam. Tujuan kami adalah menuju ke Desa Cibeo yang dihuni oleh suku Baduy dalam sehingga tarifnya pun lumayan bagi kantong perantau nekat macam kami, akhinya dengan sedikit argumen kamipun berhasil mendapatkan harga diskon tetapi dengan paket minimalis, dengan pemandu wisata tanpa porter.




 https://citaariani.files.wordpress.com/2013/05/peta-baduy.jpg


Perjalanan pun kami mulai dengan riang gembira, melewati desa Kanekes kami disuguhi dengan rumah khas suku Baduy yang begitu sederhana dan bersahaja, senyum ramah para penduduk begitu hangat menyapa kami. Penataan rumah yang berjejer di sepanjang jalan berbatu menambah keelokan kampung Baduy ini. Penduduk Desa Kanekes bermata pencaharian sebagai petani, mereka bertani di sekitar kaki gunung, sedangkan wanitanya lebih banyak dirumah dengan bertenun kain. Mereka hidup bertetangga seperti masyarakat pada umumnya hanya saja memang mereka masih memegang beberapa aturan adat, seperti warna pakaian mereka yang didominasi warna hitam yang konon katanya karena mereka sudah terkontaminasi oleh dunia luar dan penggunaan kain sarung.







Perjalanan pun kami lanjutkan, untuk mencapai kampung Baduy dalam yaitu kampung Cibeo kami harus berjalan lagi sekitar 14 KM dari Ciboleger. Sepanjang perjalanan ke Cibeo kami melewati jembatan yang menghubungkan antara satu desa dengan desa lainnya, konstruksi jembatan ini terbuat dari susunan bambu yang diikat dengan tali, cukuplah untuk menopang beban hidup.

Perjalanan cukup berat bagi kami, euphoria diawal perjalanan membuat kami tidak bijak menggunakan energi untuk berjalan jauh, Akhirnya di sepanjang perjalanan kami banyak singgah untuk beristirahat kamipun sering ditegur oleh pemandu jalan, khawatir kemalaman di Jalan. Tanjakan tinggi dan penurunan cukup menguras tenaga rasanya ingin menyerah saja, tidak jarang beberapa dari kami terpeleset karena kabut mulai turun menjelang sore hari mengakibatkan jalan tanah yang dilalui mulai licin.










Cukup lama berselang kamipun akhirnya sampai ke perbatasan antara wilayah Baduy Luar dan Baduy dalam, sebuah jembatan kayu yang lebih kecil dan sempit setelah jembatan ini beberapa peraturan untuk suku Baduy dalam berlaku pula untuk kami, yaitu tidak ada kamera. Suku baduy dalam adalah masayarakat baduy masih memegang teguh adat-istiadatnya secara utuh. Konsep yang dipegang adalah konsep pikukuh yaitu pada intinya konsep ini berisi tentang keapaadaan, sehingga suku baduy dalam tidak menerima adanya pengaruh modernisasi.







Pukul 18.00 akhirnya setelah 5 jam berjalan kaki kami sampai juga dikampung Cibeo salah satu kampung Baduy Dalam selain desa Cikawartana, kampung ini cukup kecil susunan rumah-rumahnya hampir mirip dengan yang ada di Kanekes, hanya saja di kampung ini ada beberapa aturan adat yang harus ditaati oleh semua orang termasuk orang luar seperti kami. Kami dipersilahkan untuk menginap disebuah rumah kayu yang berjarak 50-100 cm dari tanah, ukuran rumah sekitar 8x6 meter dengan atap setinggi 3 meter. Konsep alami benar-benar terlihat dari isi rumah mereka, tak ada barang-barang istimewa hanya alat rumah tangga sederhana. Malam itu kami disuguhi Indomie dan nasi, cukup mengherankan juga karena ditengah cara hidup mereka yang sederhana, mereka diperbolehkan untuk makan makanan modern. Kami menghabiskan malam dengan berbincang namun tidak lama karena kelelahan yang menyerang akhirnya kami berangkat untuk tidur didalam rumah yang beralaskan bilah-bilah bambu dengan berselimut dingin. Dipagi hari kami melihat pemandangan yang sangat menakjubkan pesona kampung Baduy dibalut kabut dan jejeraran batu besar di dataran yang cukup luas sangat memukau, tak jauh dari sana terdapat sungai besar tempat masyarakat melakukan aktivitas MCK. Kamipun pergi ke sungai untuk sekedar membasuh muka, oh iya di sini kami dilarang menggunakan pasta gigi ataupun sabun, alhasil kami tidak bisa apa-apa. Sayangnya kami harus segera pulang karena perjalanan pulang kami harus ditempuh kurang lebih 5 jem berjalan kaki untuk sampai ke Ciboleger untuk kembali ke Bandung.


Meninggalkan kampung Baduy dalam memberikan beberapa catatan penting, bahwa hidup selaras dengan alam, menjaga kelestariannya akan membuat hidup manusia lebih terjaga, menutup diri dari dunia luar adalah pilihan yang sulit bagi siapapun di zaman seperti sekarang ini, tapi mereka bisa membuktikannya artinya sekuat apapun pengaruh buruk di luar sana jika kita mau meminta pertolongan Allah SWT maka kita akan dimampukan untuk hidup dengan nilai-nilai yang baik sesuai tunutunan Al Qur’an, dan yang terakhir layaknya perjalanan ke Cibeo, hidup ini pun harus dijalani dengan sungguh-sungguh karena kita tidak pernah tahu apa yang akan menunggu kita di ujung sana, yang perlu kita lakukan hanyalah niat yang baik, lakukan yang baik dan Insya Allah akan indah pada saatnya.































Thursday, May 31, 2018

Ali dan Ali (Ramadhan Challange)



03.00 Sahur pertama di bulan Ramadan

#Aku malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur, ah seandainya ini bukan Ramadan pertama untuk apa aku bersusah payah bangun di malam hari begini. Perlahan kutarik kembali selimut lembut teman tidurku dan berharap tidak ada lagi ketukan di pintu kamar.
Sesaat kemudian pintu diketok lagi, Ali, bangun nak kita sahur.

# Ali baru saja ingin membaringkan tubuh, tapi malam ini adalah malam istimewa.
“Aku harus bergegas menyambut malam ini, mumpung langit diatas tidak berwarna merah,siapa tau aku serdadu Bengal itu terlelap dalam kepayahannya”
Ali kemudian bergegas mengambil air wudhu dan mengangkat tangan untuk bertakbir.
Setelah tahajjud Ali menengadahkan tangan ke Langit, memohon perlindungan kepada Allah SWT, sang Maha Rahman dan Rahim, Ali butuh kekuatan lebih, esok dia akan menghadapi momen penting dalam hidupnya.

04.00

# Ada menu apa di sahur pertama ini? Semoga saja Ibu memasakkan makanan kesukaanku. Jika tidak, ah lebih baik Aku kembali saja ke kamar.
Ali mendekati meja makan, sudah ada Ibu, Ayah dan Adiknya yang menunggu.
“Ayo nak yang semangat, Esok Ramadan pertama, yuk kita antusias menyambutnya”
Ali beringsut ke kursinya dan berusaha menghabiskan makanan yang ada di piringnya, rasanya ingin cepat saja agar bisa kembali tidur.

# “Assalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh” Ali mengakhiri tahajudnya dengan salam ke kiri.
Hmmm kemana para serdadu-serdadu itu? Apakah malam ini mereka tidak berpatroli, jika memang benar malam ini mereka tidak datang berarti ini adalah bonus dari Allah.
Ali beranjak ke dapur, lebih tepatnya tidak bisa disebut dapur lagi. Dindingnya sudah hancur sebagian tapi ditutupi dengan selembar kain penghalang, sekedar menghalau debu agar tidak masuk kedalam makanan.
Imminya sedang menyiapkan makanan sekadarnya, di Negeri lain ini mungkin hanya kudapan. Tanpa banyak bicara Ali dan Ibu menghabiskan makanan mereka, tidak ada Ayah dan Adik yang bersama mereka.
“Ali, bagaimana persiapanmu nak?”
“Alhamdulillah Immi, Ali sudah memohon petunjuk dan perlindungan kepada Allah SWT, semoga besok Ali bisa lancar membacanya”
Immi memeluk Ali dengan hangat, remaja tanggung yang akan segera berubah menjadi lelaki dewasa  adalah harapannya saat ini setelah kehilangan suami dan anak bungsunya. Tak terasa cairan hangat mengalir dipipinya.

Dalam hati dia berkata “ Robbil Habli minassholihin”


05.00 Subuh hari

#Ali terlelap dalam tidurnya, suara adzan yang menggema bukannya membangunkan dia dari tidur, sebaliknya dia semakin terelap.
“Kak Ali, Kak Ali ayooo ke Masjid! Temani aku Kak , kata Maizarah adiknya.
“Tar yah de’ kakak masih ngantuk berat nih”
Ali mengabaikan Maizarah dan kembali terlelap.
Tiba-tiba Ibu muncul di depan pintu kamarnya.
“Ali, ayo nak ke Masjid temani Ibu dan adikmu, soalnya Ayah sudah berangkat duluan tadi”

“Malas Bu, besok subuh saja yah, Ali janji”
Akhirnya ibu hanya memelas memandang wajah Ali dan menggumamkan doa dari Bibirnya, “Robbi Habli Muqima Sholati wa min dzurriyati”


# “Immi, Ali berangkat ke Masjid yah, Immi hati-hati berada di rumah, Insya Allah saya akan segera pulang setelah sholat subuh dan menyetorkan hapalan Ali”
Yah Ali berangkat sendiri, dengan berjingkat-jingkat melompati puing-puing bangunan, Ali dengan lincah melewatinya untuk segera bisa melakukan sholat subuh berjamaah.
Dari kejauhan Immi melepas Ali, wajahnya teduh dan matanya berbinar dari jauh punggung Ali mengingatkannya pada Abuya-nya, ketika terakhir kali melihat beliau berlalu  dua tahun lalu.
Immi menepis lamunanya dan kembali masuk kedalam rumah.


06.00

#Ali masih terlelap, sedetik kemudian dia bangun dengan gelapan, “Ya Allah saya belum sholat subuh, ketahuan Ayah bisa kacau nih”

Ali setengah oleng menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan sholat secepat kilat. Di hari-hari biasa, sebentar lagi ayah akan datang ke kamar Ali.
“Alhamdulillah, kamu sudah bangun nak”
“ hehehe, iya yah, Alhamdulillah”
“ hari ini berangkat bareng Ayah atau pake motor sendiri?”
“mmm Ali berangkat sendiri saja Ayah”
Ali berencana akan berangkat kesekolah pukul 07.00 pagi, hari ini adalah Ramadan hari pertama jadwal sekolah di mundurkan hingga pukul 08.00.

#Jantung Ali berdegup kencang, sebentar lagi gilirannya untuk menyetorkan juz terakhirnya.
Dia lalu mengadah ke langit membayangkan wajah adik, dan Abuya yang sedang tersenyum,
Sejurus Ali ikut tersenyum, sambil bergumam dia membatin “Adik, Abuya tunggu Ali yah, Ali sangat rindu kalian”
Tiba-tiba wajah-wajah itu berganti menjadi wajah Immi, wanita 40 tahunan yang saat ini satu-satunya orang yang menjadi semangat hidupnya, Bayangan wajah Immi sangat teduh, guratan wajah khas wanita Palestina membuat Ali selalu membanggakannya. Ali murung dan bergumam “Immi, betapa Ali menyayangimu.

“Ya Ali, bi sur’ah” lamunan Ali dipecah oleh panggilan syekhnya
Ali memantapkan langkah menuju ke hadapan Syekh.
“Kamu siap Ali?”
“Naam ya Syekh”
Ali memantapkan hati dengan tenang dia menyetorkan hapalan juz terakhirnya.
“Shodaqallahul adzim”
Para jamaah kompak membaca hamdalah dan membaca doa setelah membaca Al Quran.
Ali menghambur ke dekapan Syekh, air matanya mengalir membayangkan wajah Immi, Abuya dan Adiknya.
Ali bergumam “ Immi, Ali sudah menunaikan janji”


07.00

#Ali masih santai saja sebelum berangkat sekolah, dia masih sibuk kesana kemari, bolak balik keluar masuk kamar.
“Ali belum berangkat?” Kata Ibu yang sedang menonton Televisi
“Dikit lagi Bu, ini masih siap-siap”
Sementara di TV siaran langsung salah satu aksi pasukan Yahudi melancarkan bom, kepemukiman Palestina.
“ Astaghfirullah Hal Adzim, kasian anak-anak Palestina, Ya Allah turunkan bala tentaraMu untuk menolong mereka” Tiba-tiba tangis Ibu pecah, dan suaranya meninggi.
Ali terkejut dia segera menghampiri Ibunya.
“ Ada apa bu?” Kata Ali
“ Lihat nak, pemuda-pemuda seperti mu di Palestina berjuang mati-matian mempertahankan tanah kelahirannya”

Ali mengurungkan langkahnya ke Sekolah, entah kenapa magnet berita ini begitu besar, dia terduduk , terdiam, dan tak terasa air matanya menetes, demi menyaksikan pemuda sebayanya berjuang dengan bongkahan batu berhadapah dengan Tank-tank pembunuh milik Israel.
Dilayar kaca terlihat seorang pemuda di garis depan, mengobarkan semangat teman-temannya, memancing kemarahan tentara Israel.


#Ali tidak bisa berlama-lama berpelukan dengan Syaikh.
Sejurus kemudian bunyi dentuman bom mulai bergemuruh, Ali dan pemuda yang ada menghambur keluar, berlari ke arah sumber suara.
“Kami datang!”
Ali memasang Kafiyehnya, dia bergumam “ini saatnya, Immi…. Ali minta izin untuk intifadah”
Ali berlari secepat kilat menyambut tank-tank Israel. Dia memunguti batu-batu yang ada sebisanya, sekuatnya, semampunya.
Dada Ali bergemuruh, entah kenapa dia merasa tak berjejak di bumi. hatinya terhubung kepada Allah. Takbir, tahmid tak lepas dari mulut dan hatinya sambil sesekali menyemangati kawan-kawannya.
Tentara Israel semakin maju, para pemuda terdesak kebelakang tanpa sadar kini hanya ada Ali di depan, sendiri namun sejatinya dia bersama Allah.
Ali menghindar sebisanya, tembakan dan dentuman bom semakin memburu, Ali menghindar sebisa mungkin, Namun Allah berkendak lain Ali memenuhi syahidnya.

Di sebuah sudut, hati seorang Ibu bergetar, dalam doa dhuhanya Immi meneteskan air mata, naluri keibuannya berkata Ali telah pergi, dan semoga Allah mendatangkan Rezeki untuknya jika dia berada di langit semoga Allah menurukannya agar Immi bisa berkumpul dengan mereka kelak, Immi beroda kepada Allah agar Rezeki syahid juga diturunkan Allah  kepadaNya.

Sedangkan disudut televisi, dibelahan bumi yang lain, Seorang Ali menyaksikan Ali lain menemui Syahidnya, dadanya bergemuruh, matanya menghangat.
Dia bergumam “Apalah saya ini dibandingkan Dia”

#Rumbelmenulis
#IPSulawesi
#ChallangeApril
#Ramadhan


sumber foto : https://www.dakwatuna.com/2015/11/16/76933/intifadhah-al-quds-sampai-kapan-2/#axzz5H3uV3GYr

Sunday, April 29, 2018

Tugas 7 Menyusun rencana program project

Tugas 7

Tugas kali ini cukup berat menurut saya, karena semua peserta diminta untuk menyusun rencana untuk membuat project.

Saya akhirnya memilih untuk meneruskan project yang menjadi resolusi saya diawal tahun yaitu membuat portofolio anak-anak saya.

Untuk menyusun rencana project tersebut agar bisa tercapai, saya membuat perencanaan sebagai berikut :

1. Tahap persiapan
2. Mengkaji sumber ilmu utamanya yang berkaitan dengan fitrah iman, fitrah belajar dan fitrah bakat. (1 bulan)
3. Merencanakan jadwal kegiatan yanh berkaitan dengan ketiga fitrah dalam bentuk kegiatan sehari-hari (1 minggu)
4.  Dokumentasi 100 hari kegiatan anak-anak (3 bulan)
5. Menyusun buku portofolio anak-anak.

Sayang sekali saya belum membuat planning saya dalam bentuk jadwal, tapi insyaaAllah saya akan melakukannya.

#Ruangberkaryaibu
#proyek5

Sunday, April 8, 2018

Tugas 4 RBI

Tugas RBI yang keempat ini mulai mengerucut.  Peserta diarahkan untuk membuat kata-kata motivasi, tujuan dan mimpi yang akan divisualisasikan nantinya.

Tugas kali ini gampang-gampang susah bagi saya. Bukan karena tidak punya mimpi tapi saat ini saya masih punya beberapa mimpi terdekat yang masih tertunda.

Melihat kondisi diri saya saat ini sepertinya masih jauh kondisi saya dengan mimpi yang ingin saya capai. Tapi tak apalah seperti kata Leslie levine:
DREAM IT, WISH IT,  DO IT.

dan Allah SWT Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi kita untuk berikhtiar,  dan semoga saja usaha saya akan bertemu dengan takdir yang Allah.






Saturday, April 7, 2018

Tugas RBI yang keempat ini mulai mengerucut.  Peserta diarahkan untuk membuat kata-kata motivasi, tujuan dan mimpi yang akan divisualisasikan nantinya.

Tugas kali ini gampang-gampang susah bagi saya. Bukan karena tidak punya mimpi tapi saat ini saya masih punya beberapa mimpi terdekat yang masih tertinda.

Ketika melihat kondisi diri saya saat ini sepertinya masih jauh kondisi saya dengan mimpi yang ingin saya capai. Tapi tak apalah seperti kata Leslie levine:

DREAM IT, WISH IT,  DO IT.

dan Allah SWT Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi kita untuk berikhtiar,  dan semoga saja usah saya akan bertemu dengan takdir yang Allah tetapkan. 

Saturday, March 31, 2018

Tugas 3 RBI

Tugas ketiga ruang belajar Ibu adalah membuat schedule harian, baik di ranah domestik maupun ranah publik.

Sebenarnya saya sudah membuat schedule sejak bulan februari dengan sistem #bujo Bullet Jurnal. Hanya saja saya masih susah untuk disiplin mengisinya, bahkan dua minggu saya lalai dalam melaksanakan dan mencatat keseharian saya.

Sebenarnya sistem jurnal seperti ini cukup efektif, hanya diperlukan komitmen yang lebih dari diri sendiri.

#Ruangberkaryaibu
#proyek2
#tugasmateri3
#kenalipotensimuciptakanruangberkaryamu